UNTUK SEMENTARA WWW.LIBERATIONYOUTH.BLOGDRIVE.COM PINDAH ALAMT KE
-- WWW.RESISTZINE.BLOGSPOT.COM --
INI KAMI LAKUKAN UTK LEBIH MENGEFEKTIFKAN KERJA KAMI KE DEPANNYA. OLEH KARENA ITU, SELURUH AKTIVITAS YG BERKENAAN DGN PEMBERITAAN & PENERBITAN RESIST ZINE SELANJUTNYA AKAN DI ALIHKAN SPT ALAMAT YG TERTULIS DI ATAS.
TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN PENGUNJUNG SEKALIAN SELAMA INI. SEMOGA KITA MENDAPAT PETUNJUK & RAHMAT DARI ALLAH SWT GUNA MENAPAKI SETIAP PERJALANAN HIDUP KITA INI. AMIIN...
FOR TEMPORARY WWW.LIBERATIONYOUTH.BLOGDRIVE.COM MOVED TO
-- WWW.RESISTZINE.BLOGSPOT.COM --
WE DO THIS UTK WE WORK more effectively toward him. BY ACCORDINGLY, ALL ACTIVITIES verbal
proclamation & Resist ZINE PUBLISHING WILL FURTHER ADDRESS Divert
ABOVE WRITTEN.
THANK YOU FOR ATTENTION VISITORS DURING THIS gentlemen. WE HAVE GOOD GUIDE & THE GRACE OF GOD Almighty Stepping FOR ANY TRAVEL IS OUR LIVES.AMIIN... Subhanallah ...
Datuk Mohammad Nakha’i: Sistem Harus Dilawan dengan Sistem
Datuk Mohammad Nakha’i: Sistem Harus Dilawan dengan Sistem
Dalam acara diskusi Ramadhan yang diselenggarakan Yadmi atau Yayasan
Dakwah Malaysia Indonesia di Gedung Habibie Center Jakarta, cendekiawan
muslim asal Malaysia menyatakan bahwa Islam harus ditampilkan dalam
bentuk sistem.
”Dakwah harus ditampilkan dalam bentuk peradaban Islam dan berbentuk
sebagai sistem alternatif dari sistem yang ada di masyarakat. Dengan
begitu, kita melawan sistem dengan sistem. Bukan sekadar cakap
(omongan, red),” ujar Datuk Haji Mohammad Nakha’i Haji Ahmad.
Wakil ketua dewan pembina Yadmi ini juga memberikan rumus kesuksesan
dakwah. Yaitu, adanya kedekatan antara tiga unsur: pemerintah,
intelektual, dan ulama. ”Tiga unsur inilah yang bisa mengawal dakwah di
Malaysia dalam rangka pemberdayaan umat,” ujar datuk yang juga aktivis
dakwah di Malaysia.
Datuk Mohammad Nakha’i menambahkan, selama ini penjajah selalu ingin
menanamkan pengaruhnya di negeri bekas jajahan untuk waktu yang lama.
Di antara yang mereka lakukan adalah melemahkan sektor pendidikan,
meminderkan umat Islam dengan produk-produk Barat, dan melemahkan
kemampuan ekonomi umat.
Sulit kita membangun peradaban Islam, masih menurut Datuk Mohammad
Nakha'i, kalau hanya dengan ucapan. Karena dakwah harus memberikan
solusi yang dibutuhkan umat. Penerapan ekonomi Islam secara nyata dan
kuat harus menjadi satu kesatuan dalam organisasi dakwah.
Selain Datuk Mohammad Nakha'i, hadir sebagai pembicara lain Dr.
Tarmidzi Taher. Mantan menteri agama ini menyatakan bahwa dakwah harus
tampil baru. Tidak seperti sebelum ini yang terlalu menekankan pada
ucapan dengan kalangan terbatas.
"Dakwah harus tampil beda sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini yang semakin kompleks," ujar Tarmidzi.
Menurutnya, masyarakat saat ini membutuhkan dakwah yang integral,
menyeluruh, memenuhi seluruh lingkungan masyarakat yang ada. "Begitu
banyak lapisan masyarakat yang saat ini, munngkin, belum tersentuh
dakwah," tambah dokter yang saat ini aktif memberikan kajian keislaman.
Senada dengan dua pembicara di atas, Ahmad Watik Pratiknya
mengungkapkan gagasan solusi agar dakwah bisa lebih berdaya di
masyarakat.
"Selama ini, orang berdakwah seperti hit and run. Pukul dan lari.
Seorang dai datang menyampaikan ceramah tentang Islam dengan berbagai
kekhasan mereka, tanpa memahami terlebih dahulu seperti apa keadaan
masyarakat yang didakwahi," papar Ahmad Watik dalam diskusi yang
dihadiri tamu dari Malaysia ini.
Menurut Agus Watik, dakwah tidak bisa dilakukan secara individual.
Ia harus dilakukan secara berjamaah. Harus ada diagnosis masyarakat
yang akan dihadapi. Dan terlebih lagi, dakwah harus memberikan
pemberdayaan secara ekonomi buat umat.
"Problemnya, saat ini justru tidak sedikit para dai yang dibayar
oleh umat yang mengundangnya. Tak ubahnya seperti selebritis. Punya
manajer dan sebagainya," ujar Agus Watik.
Agus Watik menambahkan, dakwah harus mengangkat kedha'ifan umat dari
berbagai sudutnya. Mulai dari kedhaifan material, aset, psikologis dan
akses. "Karena itu, kita harus mereka ulang format dakwah kaum dhuafa
yang mayoritas di negeri ini." (Indah)
Berapa sebenarnya jumlah orang Yahudi saat ini? Ternyata, bangsa
Yahudi masih menjadi kaum minoritas di dunia. Dalam laporan yang
dilansir oleh Lembaga Studi Perencanaan Bangsa Yahudi disebutkan bahwa
pertumbuhan Yahudi secara alami sangat terbatas. Tahun 1970, jumlah
mereka 12, 633 juta, dan saat ini baru mencapai 13,100. Laporan ini
diketuai oleh Dennis Roos.
Otomatis, masalah ini masih menjadi bahan pemikiran Yahudi baik di
dalam atau di luar Israel. Pernah disinggung oleh politikus kiri
tersohor, Yosi Beilin beberapa tahun lalu dalam bukunya soal realitas
Yahudi di dunia. Ia fokus ingin menghilangkan penghalang ini dengan
cara redefinisi Yahudi dan menganggap kelahiran dari ayah Yahudi dan
ibu non-Yahudi disebut Yahudi juga. Bukan mereka yang lahir dengan ibu
Yahudi tanpa mempedulikan agama ayahnya sebagaimana yang biasa
diterapkan kini di kalangan bangsa Yahudi.
Pertimbangan baru menurut Beilin yang diikuti oleh banyak kalangan
seperti yang disebutkan dalam laporan ini akan menambahkan jutaan orang
ke dalam bangsa Yahudi. Terutama prosentase perkawinan campuran antara
Yahudi Amerika dan Eropa mencapai 55% dari total jumlah Yahudi.
Laporan tersebut mengisyaratkan dimensi lain soal jumlah Yahudi di
negara Israel dan menurunnya rata-rata eksodus Yahudi ke sana selama
tahun-tahun terakhir dengan jumlah 5,400 juta sementara di Amerika
Serikat jumlah Yahudi mencapai 5,250 juta.
Namun jumlah Yahudi secara keseluruhan ini ternyata tidak sama
dengan jumlah orang Yahudi yang berhasil duduk di parlemen yang
cenderung meningkat setiap tahunnya. Di Inggris, jumlah anggota
parlemen mencapai 52 anggota, padahal jumlah warga Yahudi di sana tidak
lebih dari 300 ribu orang. Sementara kaum muslimin yang jumlahnya
mencapai lima kali lipat dari Yahudi hanya memiliki satu orang
perwakilan di parlemen Inggris.
Di AS jumlah anggota Kongres Amerika dari Yahudi berjumlah 13 orang
dari 101 total anggota Kongres Amerika. Padahal persentase Yahudi di
sana di bawah 2%. Sementara di parlemen Amerika Yahudi memiliki
perwakilan 30 orang. Dan jangan tanya berapa banyak mereka yang loyal
kepada Yahudi dan kepentingannya.
Di Perancis, Yahudi memiliki 18 kursi di parlemen padahal jumlah
warga Yahudi di sana tidak melebihi 1% penduduk. Demikian halnya di
Ukraina. Angka-angka di atas memberikan kesimpulan betapa besar lobi
Yahudi di negara-negara besar. (sa/simpletoremember)
Bagi Israel, perkawinan campuran antara Yahudi dan non-Yahudi
merupakan "ancaman nasional yang strategis". Israel sangat
mengkhawatirkan musnahnya orang-orang yang berdarah Yahudi murni. Untuk
itu rezim Israel sedang gencar-gencarnya memasang iklan di telivisi dan
internet, berisi himbauan agar orang-orang Israel memberitahukan
kerabat dan teman-teman mereka di luar negeri agar tidak menikah dengan
non-Yahudi.
Rezim Zionis tak segan-segan mengeluarkan kocek sebesar 800.000
dollar untuk membuat iklan yang didisain khusus guna menghentikan
asilimasi orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia lewat
pernikahan campuran. Rezim Zionis menginginkan semua Yahudi diaspora
untuk kembali ke Israel.
Israel membuat iklan itu sebagai respon atas sejumlah laporan yang
menyebutkan bahwa setengah dari jumlah Yahudi yang berada di luar
Israel menikah dengan non-Yahudi. Laporan ini nampaknya membuat Israel
dan sejumlah lembaga swasta Yahudi khawatir akan musnahnya orang-orang
Yahudi murni dan mereka melakukan berbagai cara untuk meningkatkan
jumlah populasi Yahudi.
Israel membayar para presenter berita terkenal untuk membawakan
iklan-iklan tersebut. Dalam satu iklan disebutkan, asimilasi adalah
"ancaman nasional yang strategis", "Lebih dari 50 persen anak muda
Yahudi diaspora melakukan perkawinan campuran dan bagi kita, jumlah itu
sangat banyak."
Aktivis Gush Shalom- kelompok perdamaian di Israel-Adam Keller
mengatakan, Israel butuh banyak orang Yahudi sebagai bentuk "perang
demografis" terhadap bangsa Palestina. Oleh sebab itu mereka sangat
takut jika orang-orang Yahudi murni musnah karena perkawinan campuran.
Hasil survei yang dilakukan Jewish People Policy Planning Institute
selama beberapa tahun belakangan ini, menunjukkan bahwa Israel adalah
satu-satunya "negara" yang pertambahan populasinya paling lambat,
bahkan stagnan. Penurunan itu disebabkan karena rendahnya tingkat
kelahiran dan perkawinan campuran antara Yahudi dan non-Yahudi.
Menurut laporan lembaga itu, setengah dari jumlah Yahudi di AS dan
Eropa melakukan asimilasi. Sementara di bekas negara Soviet, jumlah
Yahudi yang melakukan perkawinan campuran mencapai 80 persen. Jumlah
Yahudi di Israel sendiri sekitar 5,6 juta orang dan banyak dari mereka
yang juga melakukan asimilasi dengan warga Arab. Di Israel, perkawinan
campuran antara Yahudi-Arab tidak diakui, kecuali jika perkawinan itu
dilakukan di luar negeri.
Target iklan yang dibuat pemerintah Israel adalah orang-orang Yahudi
di Kanada dan AS. Di kedua negara ini, jumlah Yahudinya paling besar di
dunia yaitu sekitar 5,7 juta jiwa. Kebanyakan Yahudi di Kanada dan AS
adalah Yahudi liberal, bukan Yahudi ortodoks yang melarang orang Yahudi
menikah dengan non-Yahudi.
Menurut tim iklan anti-asimilasi Yahudi, sejak iklan itu ditayangkan
di televisi pekan kemarin, lebih dari 200 orang Israel yang menghubungi
nomor hotline dan melaporkan nama-nama orang Yahudi yang tinggal di
luar negeri beserta informasi alamat email dan akun facebook dan
twitternya. (ln/mol)
Krisis Ekonomi Bikin Orang Amerika Tak Materialistis
Krisis Ekonomi Bikin Orang Amerika Tak Materialistis
WASHINGTON--Kondisi ekonomi yang mengerikan tampaknya telah membuat
orang Amerika tak materialistis, dan satu jajak pendapat memperlihatkan
kebanyakan orang lebih memilih barang dari pengecer rabat Wal-Mart
ketimbang permata mewah di kotak biru ciri khas dagangan Tiffany.
Satu
survei atas 41.175 orang dewasa oleh Zogby Interactive mendapati orang
Amerika memilih untuk hidup dengan harta milik yang lebih sedikit, dan
dua dari 10 orang memberikan lebih dari 10 persen barang mereka dan
tidak menggantinya dalam suasana ekonomi baru.
Pelaksana jajak
pendapat John Zogby mengatakan, responden survei tersebut, yang
dilakukan pada 2-27 Juli, ditanyai apakah mereka akan memilih barang
seharga 500 dolar AS dari Tiffany (TIF.N) di dalam kotak biru atau
barang yang kelihatan sama dengan harga 250 dolar AS dari pengecer
rabat Wal-Mart Stores Inc. (WMT.N).
Ia mengatakan, hanya 10
persen memilih barang Tiffany, sementara 78 persen memilih dagangan
Wal-Mart. Yang lain tidak bisa mengambil keputusan.
"Orang bergerak ke arah gaya hidup yang lebih sederhana dan tak terlalu materialistis," kata Zogby dalam satu pernyataan.
"Saya
menyebut mereka Secular Spiritualis, karena mereka mencari lebih banyak
arti dalam hidup mereka, dan akan mencarinya melalui keluarga, teman,
relawan dan kegiatan yang santai yang memenuhi keperluan mereka," kata
Zogby, sebagaimana dilaporkan Reuters Life.
Jajak pendapat itu
mendapati hampir sepertiga orang Amerika telah mengeluarkan makin
banyak barang mereka dalam satu tahun belakangan dibandingkan yang
telah mereka lakukan sebelumnya, sementara 20 persen menyatakan mereka
telah mengeluarkan lebih sedikit. Sisanya tak bisa membuat kepastian.
Hanya
lebih seperlima orang Amerika dewasa telah menyumbangkan lebih dari 10
persen barang mereka karena semua itu tak mereka perlukan lagi, dan
sebanyak 20 persen lagi mengatakan mereka belum memberikan apa pun.
Hampir dua-pertiga --58 persen-- mengatakan mereka telah memberikan kurang dari 10 persen barang mereka.
Orang
dengan penghasilan paling rendah adalah yang paling kurang mungkin
untuk memberikan apa pun dan orang yang sering menghadiri kegiatan
agama adalah yang paling mungkin untuk melepaskan harta mereka
dibandingkan dengan yang lain. ant/ahi
Israel Akan Akui 3.000 Imigran Ethiopia Jika Yahudi
Israel Akan Akui 3.000 Imigran Ethiopia Jika Yahudi
Jerusalem
(ANTARA News/Reuters) - Israel telah mengirim beberapa utusan ke
Ethiopia untuk menguji permintaan 3.000 warga Ethiopia yang mengklaim
sebagai keturunan Yahudi dan sedang menunggu di kamp-kamp transito
untuk berimigrasi ke Israel, seorang pejabat mengatakan, Kamis.
Sekitar
100.000 orang Yahudi dari Ethiopia telah tinggal di Israel. Banyak
dari mereka yang tiba dalam penerbangan pada 1980-an dan 1990-an pada
waktu kelaparan dan perselisihan politik di Ethiopia.
Ribuan
orang lagi orang Falash Mura, yang menyatakan mereka telah dipaksa
masuk Kristen di Ethiopia, juga telah berimigrasi dalam
kelompok-kelompok kecil, tapi Israel telah menghentikan sebagian
besar aliran itu sekitar dua tahun lalu.
Menteri
dalam Negeri Eli Yishai dari partai Orthodok Shas berusaha untuk
memperbarui aliran orang dari Ethiopia dalam upaya untuk membawa
kira-kira 8.700 orang yang tinggal di kamp-kamp transito yang jorok
selama beberapa tahun ke negara Yahudi itu, beberapa pejabat
mengatakan.
Roi
Lachmanovitch, seorang jurubicara Yishai, mengatakan kementerian itu
telah mengirim tiga pejabat, dua dari kementerian tersebut dan satu
dari badan Yahudi pemerintah, ke Ethiopia Rabu, untuk memeriksa
pemenuhan syarat bagi imigrasi 3.000 orang.
"Yishai
menganggap penting untuk membawa semua orang Yahudi, termasuk
orang-orang yang surat-surat kepercayaannya mungkin diragukan, ke
Israel dan sangat buruk jika itu tidak terjadi," kata
Lachmanovitch.
Yishai
merencanakan untuk minta kabinet Israel untuk membolehkan sebagian
besar dari 8.700 orang yang sedang menunggu visa untuk berimigrasi
itu, menetapkan mereka telah memenuhi kualifikasi pemenuhan syarat
dan membuktikan latar belakang Yahudi mereka, kata seorang pejabat.
Israel,
yang menentukan sendiri sebagai negara Yahudi, pada umumnya mendukung
imigrasi orang Yahudi dan mensubsidi banyak pendatang baru untuk
membantu menjamim Yahudi tetap mayoritas di negara tempat sekitar 20
persen penduduknya adalah orang Arab.
Kelompok-kelompok
imigran di Israel telah lama memprotes penangguhan dalam mengizinkan
Falash Mura untuk datang, dan mengatakan kelompok itu telah
memisahkan banyak keluarga yang familinya telah meninggal.
"Kami
meyambut baik dibukanya kembali pintu, meski tondakan itu belum
memecahkan semua masalah," kata Abraham Neguise, direktur South
Wing to Zion, sebuah kelompok kepenasehatan Ethiopia.
Neguise
mengatakan ada laporan-laporan belakanga ini mengenai penderitaan
medis di kamp-kamp transito di daerah Gondar di Ethiopia.
Israel
memberi kewarganegaraan otomatis pada orang-orang Yahudi yang
berimigrasi. Sebagian besar orang Falash Mura harus menjalani ritual
perubahan (agama) sebelum menerima kartu penduduk.(*)
Kaum Muslimin di Cina, tepatnya di daerah
Xinjiang, China barat laut tewas mengenaskan dibantai oleh suku Han
China. Jumlah korban kekejian ini diperkirakan mencapai 600 hingga
800 orang. Pimpinan Kongres Uighur (Muslim di China), Dunia, Asgar
Can, menyatakan: “Orang yang bertanggung jawab atas serangan ini
adalah Wang Leguan, Kepala Partai Komunis Xinjiang, dan juga
kebijakan pemerintah,” katanya. Seperti apa kekejaman pemerintah
Komunis China ini memperlakukan minoritas kaum Muslimin di China ?
Bantuan apa yang harus diberikan oleh kaum Muslimin saat ini ?
Berikut kami postingkan kembali artikel tentang Muslim di China!
Apabila mereka (umat Islam) meminta pertolongan
kepadamu dalam urusan pembelaan (dikarenakan adanya invansi, dan
sejenisnya) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan. “
(QS.8:72)
14 Abad yang lalu Islam datang ke tanah Cina, pada
masa pemerintahan Kholifah Ustman ibn Affan (ra), beliau mengirimkan
sebuah delegasi di bawah komando Sa’ad ibn Abi Waqqas (ra), paman
Nabi (dari garis ibu) ke Cina. Jarak yang ditempuh sekitar 5000 mil
mengemban tugas untuk menyebarkan pesan tauhid (agama Islam) ke
daerah kekuasaan Cina dan masyarakat cina yang pada waktu itu
menganut kepercayaan paganisme. Utusan tersebut berlayar menuju Cina
melalui lautan India dan laut Cina sampai di daerah Portugal dari
Guangzhou, mereka kemudian berjalan melewati Chang’an (saat ini
dikenal dengan Xi’an), perjalanan mereka dikemudian hari dikenal
dengan nama Jalur Sutra.
Negara-negara yang terlewati dengan jalur tersebut
didakwahi dengan Islam, sehingga orang-orang Muslim tersebar ke
setiap bagian Cina, akan tetapi kebanyakan dari mereka bertempat
tinggal di Cina bagian barat. Jumlah tertinggi dari ummat Muslim
baru-baru ini dapat ditemukan di Xinjiang, Gansu, Ningxia, Yunan dan
propinsi Henan. Saat ini jumlah ummat Muslim yang hidup di Cina
sekitar 150 juta orang, dengan jumlah masjid lebih dari 30 ribu
masjid.
Hari ini, dengan sengaja dan sistematik rezim Cina
menyembunyikan keadaan buruk ummat Muslim yang pada kenyataannya
berada dalam kondisi disiksa, dianiaya, dan didzolimi. Secara
historis rezim buatan manusia ini (Republik Rakyat Cina) secara
dahsyat telah memiliki sistem jahat yang tersistematis untuk
membersihkan negaranya dari orang-orang Muslim. Berikut rekam sejarah
kekejaman rezim Cina kepada Muslim:
Antara tahun 1949
dan 1965, di bawah rezim komunis Mao, ummat Muslim yang tinggal di
Barat laut Cina sejumlah kurang lebih 26 juta Muslim dibunuh oleh
tentara Cina atau mati kelaparan karena ulah dari rezim.
Tahun 1964,
peraturan Cina menggunakan orang-orang Muslim di propinsi Xiang
untuk percobaan nuklir sebagai akibatnya, orang-orang di daerah
tersebut ditemukan meninggal karena penyakit dan lebih dari 20.000
anak-anak dilahirkan cacat. 210.000 orang-orang Muslim kehilangan
hidup mereka sebagai akibat dari percobaan nuklir tersebut dan
ribuan lainnya mengidap kanker atau lumpuh.
Sejak tahun 1966,
10.000 orang Muslim ditahan, ditawan di camp-camp selama
berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun mendekam sebagai tahanan
di penjara Cina, disiksa dengan kejam hanya kerena mereka ingin
hidup dengan hukum agama mereka yaitu Islam.
Antara tahun
1995-1997 lebih dari 500.000 orang muslim ditahan tanpa alasan oleh
penguasa Cina. Selama periode yang sama lebih dari 5.000 orang
meninggal akibat dari siksaan oleh rezim Cina atau dinyatakan
hilang. 119 pemuda Muslim dieksekusi secara terbuka dan 5000 muslim
ditelanjangi dan diletakkan dihadapan publik untuk dipertontonkan
kepada 50 grup/kelompok.
Kebijakan rasisme dan pembunuhan masal terus
berlangsung sampai abad ke 21:
Wanita
Muslim yang hamil tua, diambil dari rumah-rumah mereka dan dipaksa
untuk disterilkan/dimandulkan dibawah kondisi yang tidak higienis
(tidak bersih) dan anak-anak yang dilahirkan di luar kuota
pemerintah dibunuh.
Di
sekolah-sekolah pemerintah guru-guru wanita Muslim dilarang memakai
kerudung dan guru laki-laki Muslim harus memotong jenggot
mereka.
Masjid-masjid
dihancurkan secara bertahap.
Murid-murid
Muslim dengan sengaja disediakan makan siang selama bulan Ramadan
sebagai bujukan untuk membatalkan puasa di siang hari.
Penduduk
Muslim diminta untuk tinggal di rumah-rumah mereka pada jam-jam
sholat dan dilarang membawa Al-Qur’an pada waktu kerja.
Siaran
radio yang berisi ceramah-ceramah Islam di Masjd dilarang.
Hampir
setiap Masjid di Cina dipasang tanda peringatan larangan untuk
sholat rutin berjamaah bagi mereka yang berumur kurang dari 18
tahun.
Petani-petani Muslim
menjual hasil panen mereka kepada agen-agen pemerintah di bawah
harga standar karena mereka dilarang menjual ke pasar secara bebas,
adapun penduduk Han (penduduk asli Cina) diperbolehkan berdagang
tanpa campur tangan pemerintah.
Di bulan Agustus 2006, polisi masuk secara paksa ke
rumah wanita Muslim Aminan Momixi ketika dia mengajar Al-Qur’an
kepada 37 muridnya, dia ditahan dan murid-muridnya yang terdiri
dari anak-anak yang berusia sangat muda sekitar 7 tahunan juga ikut
ditahan. Beberapa anak tidak dibebaskan hingga orang tua mereka
membayar denda yang berkisar 7000-10.000 yuan (renmibi), padahal gaji
rata-rata setiap tahun untuk seorang Muslim berkisar antara 2400
yuan.
Pada minggu terakhir terjadi serangan yang mematikan
di sebuah pos polisi disebabkan banyaknya problem atas pelayanan
keamanan Cina khususnya berkaitan atas tindakan rezim terhadap Muslim
minoritas. Kelompok Mujahidin (yang berada di Turkistan Timur) berada
di belakang operasi tersebut melontarkan kasus-kasus Muslim agar
menjadi pusat perhatian dunia dan berusaha mengungkap kejahatan rezim
Cina, juga menuntut tegaknya negara Islam di Cina atau kekhilafahan
di Cina.
Bukan hal yang mengherankan lagi jika seruan
serupapun timbul untuk tegaknya sistem kekhilafahan secara
internasional oleh ummat Muslim yang ada di Burma, Kasymir,
Kazakhstan, Kyrgyztan, Mongolia, Nepal dan Tibet, semua negara
tersebut berbatasan dengan Cina atau mereka dapat dikatakan
bertetangga. Sistem kekhilafahan ini bukan isapan jempol belaka dari
sebuah imajinasi atau hayalan akan tetapi sistem ini telah tegak
selama 1302 tahun dimana orang-orang (Muslim maupun non muslim) hidup
di bawah hukum-hukum Allah (SWT) dengan damai, keamanan mereka
terjaga dan semua kebutuhan dasarnya tersedia dengan harga yang umum.
Seorang muslim di Cina mengatakan, “Jika kamu
mengatakan atau bercerita sedikit tentang rezim Cina maka mereka akan
memotong lenganmu dan jika kamu bercerita banyak maka mereka akan
membunuhmu.”, Muslim yang lain mengatakan, “Jika kamu mengatakan
kebenaran tentang mereka (rezim Cina) maka mereka akan memotong
keluar lidah saya.” Semua penyiksaan ini yang terjadi di Cina atas
orang-orang Muslim (laki-laki, wanita dan anak-anak) maka itu adalah
tanggung jawab dan kewajiban orang-orang Muslim seluruhnya secara
global untuk membantu satu sama lain dalam rangka membebaskan diri
kita sendiri dari belenggu hukum dan kekuasaan manusia.
Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:
‘Umat Muslim adalah satu ummat satu sama lain
tanah mereka adalah satu, perang mereka adalah satu, perdamaian
mereka adalah satu dan kebenaran mereka adalah satu.’ (HR. Muslim).
Jadi baik ummat Muslim yang hidup di Cina atau di
manapun, kita berkewajiban untuk mendukung mereka sebab Allah (SWT)
menyatakan kepada kita dalam Al-Qur’an al Karim :
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta
dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat
kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu
satu sama lain lindung-melindungi. dan (terhadap) orang-orang yang
beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun
atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi)
jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan)
agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum
yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha
melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Anfaal: 72).
LOS ANGELES— Demi
meningkatkan hubungan yang telah lama menegang dengan komunitas Muslim, Polisi kotaLos Angeles
telah menunjuk, pimpinan Muslim yang akan membantu mengedukasi petugas
kepolisian untuk menghapus sterotip negatif mendalam terhadap kaum minoritas
setelah WTC 11 September. Penunjukkan itu merupakan pertama kalinya yang pernah
ada di sejarah kepolisian Paman Sam.
"Para petugas
tidak paham tentang Islam atau komunitas Islam di Los Angeles," ujar Letnan Mark
Stainbrook, yang bertanggung jawab mengawasi proses penjembatanan komunitas
untuk biro intelijen kriminal dan konter-terorisme Departeen Kepolisian LA,
seperti yang dikutip Los Angeles Times, (29/6).
Pemimpin LAPD
meyakini, Sheikh Qazi Asad, imigran kelahiran Pakistan yang ditunjuk itu, akan
mampu menjadi sumber bernilai bagi informasi para petugas yang ingin tahu lebih
banyak tentang Muslim dan keyakinan mereka.
Mereka melihat
statusnya sebagai figur komunitas sebagai kesempatan untuk membuat petugas
terbuka dengan budaya dan sebuah agama yang masih belum diakrabi, bahkan oleh
orang asing. "Ia akan menjadi orang yang tepat untuk mengedukasi petugas
masalah tersebut," ujar Letnat Stainbrook.
Pemimpin LAPD juga
berharap Asad akan mengembalikan citra satuan kepolisian setelah masa
penuh kritikan di tahun 2007. Tahun itu, polisi LA merencanakan, untuk memetakan
wilayah berpopulasi Muslim, di mana Muslim diprofilkan untuk ditarget terkait
tindakan konter-terorisme.
Rencana itu akhirnya
batal dilakukan setelah aksi protes gencar selama seminggu. Ada
sekitar 500 ribu Muslim di Los Angeles, kota dengan konsentrasi Muslim terbesar kedua di Amerika
Serikat setelah KotaNew York
Pemimpin Muslim pun
juga sama optimis, jika Asad akan meningkatkan ikatan yang memburuk cukup lama
selama ini. "Posisi itu membutuhkan seseorang yang memiliki pengetahuan
dasar dan kemampuan untuk merangkul orang bersama-sama." ujar direktur
eksekutif, Dewan Hubungan Amerika-Islami (CAIR), di Kalifornia Selatan.
"Dan saya pikir
Asad memiliki kemampuan itu," ujarnya. Asad sendiri memiliki sejarah
membangun jembatan antara polisi dan komunitas Muslim lokal.
"Itu tidak
mengejutkan saya, melihat LAPD hendak merangkul Asad dan memberi ia kesempatan
untuk meneruskan pekerjaannya," ujar Sherrif Wilayah Los Angeles, Lee
Baca. Asad kini menjadi kepala Dewan Pimpinan Antar-Keyakinan Muslim di Amerika,
yang saat ini berafiliasi dengan Departemen Sherrif.
Bearded Asad, 47
tahun, berencana untuk mengenakan pakaian tradisional Pakistan bila
memungkinkan. Sesuatu yang ia tahu akan mengejutkan para petugas, melihatnya
berpakaian seperti itu di kantor kepolisian.
"Itu butuh
waktu bagi mereka beradaptasi," ujarnya seperti yang dikutip oleh LA
Times, (29/6). Riset terbaru yang dilakukan oleh Pusat Riset Pew dan poling
Forum Pew menunjukkan jika mayoritas masyarakat Amerika hanya tahu sedikit
tentang Islam.
Saat ia tiba di
Amerika 23 tahun lalu, Asad tidak membawa uang sepeser pun dan memiliki
kemampuan berbahasa Inggris yang minim. Ia belajar utuk berbicara di negara
barunya dengan mengambil kursus di kampus lokal dan rajin menonton siaran
berita di televisi.
Setelah menghabiskan
beberapa tahun bekerja di asuransi, Asad mulai melayani sebagai penasihat
keagamaan bagi para Muslim. Hingga tragedi WTC 11 September, ia semakin
terlibat dengan semangat besar, untuk memperkuat pemahaman antara Muslim dan
non-Muslim di lingkungannya.
Tak lama setelah
serangan, Sherrif Baca meminta Asad untuk bergabung dengan konferensi berita,
di mana petugas dan pemimpin komunits mendemonstrasikan solidaritas mereka
dengan minoritas, yang menderita dampak terburuk setelah serangan.
Kemudian ia diminta
bergabung dengan Dewan Pemimpin Agama Eksekutif Sherrif. Asad pun membawa
lusinan Muslim Amerika lain bersamanya ke dalam Dewan tersebut, dan mengejar
tujuannya, memantapkan kepercayaan antara komunitasnya dan masyarakat lebih
luas.
"Kita perlu
membentuk komunikasi yang baik, di mana kedua belah pihak dapat berbicara satu
sama lain," yakin Asad. "Ini hanyalah pintu pembukaan pertama,"
(itz)
NEW YORK--Penargetan berdasar ras dan agama makin meluas
di Paman Sam. Pihak berwenang di Amerika juga tak menampakkan tanda-tanda
berhenti melakukan kebijakan tersebut, menjadikan Muslim dan orang Arab memikul
dampak terburuk.
Kondisi
tersebut diungkap oleh dua organisasi hak asasi manusia di AS, Perserikatan
Kebebasan Sipil Amerika (ACLU) dan Grup Pekerja Kebenaran (RWV), yang mendesak
pemerintah Obama untuk segera menghentikan pemeriksaan ketat dan penargetan
kaum minoritas tersebut. Hal itu, menurut ACLU dan RWG, wajib dilakukan bila AS
ingin benar-benar menegakkan penghormatan hak asasi.
"Praktik
penargetan berdasar ras oleh para penegak hukum di tingkat federal, negara
bagian lokal, menyebarkan masalah di penjuru AS," demikian kesimpulan
dalam laporan yang ditulis oleh kedua organisasi yang dirilis Rabu (1/7) di New York.
Laporan
tersebut, yang juga dikirimkan ke Komite PBB untuk Penghilangan Diskriminasi
Rasial (CERD) menemukan jika Amerika masih melakukan praktik penahan terhadap
ribuan orang setiap hari. Alasan penahanan semata-mata kecurigaan terkait ras,
keagamaan, dan nasionalitas.
"Data
dan informasi dari penjuru negara mengungkapkan jika minoritas ras tetap
menjadi korban ketidakadilan pemerintah," bunyi laporan. "Pihak
berwenang menginvestigasi, menghentikan, menginterogasi, menggeledah mereka
hanya berdasar subjektifitas karakter identitas mereka," lanjut laporan
tersebut.
"Korban
juga terus ditarget secara ras dan etnis ketika mereka di tempat kerja,
mengemudi, di toko, beribadah, di perjalanan, dan bahkan ketika berdiri
di jalan sekali pun,". Laporan memperingatkan jika penargetan macam itu
terus berlanjut, akan mempengaruhi hidup jutaan orang di komunitas
Afrika-Amerika, Asia, Latin, Asia Selatan dan
Arab.
Di
dalamnya juga menyebut beberapa contoh, termasuk kasus Januari lalu, satu
keluarga Muslim dipindah dari penerbangan domestik ke Orlando, Florida.
Itu terjadi hanya karena salah satu penumpang mendengar keluarga itu
bercakap-cakap tentang kursi "paling aman" di pesawat.
Raed
Jarrar, warga AS kelahiran Irak juga dilarang melakukan penerbangan domestik
karena mengenakan kaus berbunyi "We
Will Not Be Silent" dalam bahasa Inggris dan Arab. Laporan ACLU
menyatakan itu hanyalah sebagian kecil persoalan besar yang tampil ke
permukaan, penderitaan yang dialami kaum minoritas. "Bermacam contoh
tambahan, tanpa diragukan, ada lebih banyak lagi," tulis dalam laporan.
Warisan
Pemerintah Bush
ACLU dan
RWG menyalahkan sikap prasangka pihak berwenang terhadap minoritas dan
kebijakan yang masih diadopsi dari pemerintahan George W. Bush terdahulu.
"Pemerintahan Obama mewarisi aturan penargetan rasial yang memalukan. Hal
itu tercantum dalam panduan resmi FBI dan progam pendaftaran warga sipil resmi
yang memperlakukan Arab dan Muslim sebagai tersangka serta menolak praduga tak
bersalah atas mereka," masih dalam laporan ACLU.
Kedua
organisasi tesebut menyatakan, di dalam sesi dengar pendapat di depan Kongres,
tak lama sebelum tragedi WTC, Bush menyatakan penargetan rasial adalah
"salah". "Sayangnya retorika pemerintah Bush, tidak mirip dengan
praktek di lapangan,"
Ribuan
Muslim dan Arab sering dikumpulkan, diinterogasi, dan dimata-matai di Paman Sam
dalam minggu-minggu dan bulan-bulan setelah serangan WTC 11 September. Beberapa
tahanan, setelah mereka dibebaskan, bahkan menggugat balik pemerintahan atas
tindakan tidak manusiawi dan pemutusan komunikasi dari dunia luar di pusat
penahanan. (iol/itz)
KAIRO,
KOMPAS.com — Presiden
Amerika Serikat (AS) Barack Obama menegaskan kembali bahwa kepemimpinan AS di
Timur Tengah memberikan kesempatan yang jarang untuk mengupayakan perdamaian
antara Israel
dan Palestina.
Demikian diungkapkan
Presiden Mesir Hosni Mubarak dalam tajuk di surat kabar The Wall Street Journal, Jumat (19/6). Mubarak mengatakan
Obama bersedia untuk membimbing ke arah pencapaian perdamaian di Arab.
"Suatu
penyelesaian bersejarah kini dalam upaya untuk diwujudkan, yang satu akan
memberikan negara kepada rakyat Palestina, serta kebebasan dari pendudukan, sedangkan
Israel mendapatkan pengakuan dan keamanan untuk hidup dalam damai," tulis
Mubarak.
"Mesir bersikap
siap untuk menjemput kesempatan ini, dan saya yakin bahwa dunia Arab akan
melakukan hal yang sama," katanya.
Pemerintahan Bush
menunggu sampai tahun terakhir dalam jabatannya untuk melakukan upaya
perdamaian Israel-Palestina, dan mendapat kecaman oleh banyak negara Arab
karena berbuat terlalu sedikit dan juga lambat.
Utusan Timur Tengah
Obama, George Mitchell, telah bertolak empat kali ke kawasan Timur Tengah dalam
tahun ini, dalam rangka menghidupkan kembali perundingan-perundingan perdamaian
Israel-Palestina. Perundingan-perundingan tersebut terhenti setelah serangan Israel terhadap Gaza yang dikuasai Hamas pada Desember lalu.
Pada awal pekan ini,
Mitchell dengan optimistis mempersiapkan perundingan-perundingan yang
diharapkan berkembang sepenuhnya dalam waktu dekat, meskipun menghadapi
hambatan sengketa berkaitan perluasan permukiman Israel di Tepi Barat, yang
mereka duduki sejak perang Arab-Israel pada tahun 1967.
"Israel tak henti-hentinya melakukan perluasan
permukiman, yang merusak serius prospek-prospek solusi dua negara, bersama
dengan penutupan Gaza," kata Mubarak, yang
merujuk pada pemblokadean Israel
terhadap Gaza
yang dikuasai oleh kelompok Hamas.
Mesir telah berusaha
untuk memprakarsai kesepakatan bagi-kekuasaan antara Pemerintah Palestina yang
dipimpin Fatah dan Hamas. Mubarak mengatakan bahwa rakyat Palestina harus bisa
mengatasi perbedaan-perbedaan mereka sendiri untuk mencapai aspirasi mereka
dalam membentuk negara.
Dia mengatakan, jika
Israel
melakukan ’langkah-langkah serius’ ke arah perdamaian dengan Palestina, dunia
Arab akan melakukan hal yang sama. "Prioritas hendaknya memecahkan dulu
perbatasan-perbatasan permanen dari suatu kedaulatan dan wilayah negara
Palestina, berdasarkan sebelum perang 1976. Ini akan membuka kunci banyak
persoalan status permanen lain, termasuk permukiman, keamanan, air, dan Jerusalem," kata
Mubarak.
Mubarak memuji
pidato Obama di Kairo pada awal bulan ini dan mengatakan bahwa hal itu
merupakan titik balik dalam hubungan-hubungan AS dengan dunia Muslim. Namun,
dia juga menegaskan bahwa hal itu hendaknya ditindaklanjuti dengan
langkah-langkah maju ke depan.
Obama dikecam oleh
beberapa kelompok hak asasi manusia (HAM) karena memilih Kairo sebagai tempat
penyampaian pidatonya karena penegakan HAM di Mesir dianggap buruk. Mubarak
mengatakan, Mesir telah melaksanakan reformasi-reformasi, tetapi memang masih
banyak yang harus dilakukan.