KAIRO,
KOMPAS.com — Presiden
Amerika Serikat (AS) Barack Obama menegaskan kembali bahwa kepemimpinan AS di
Timur Tengah memberikan kesempatan yang jarang untuk mengupayakan perdamaian
antara Israel
dan Palestina.
Demikian diungkapkan
Presiden Mesir Hosni Mubarak dalam tajuk di surat kabar The Wall Street Journal, Jumat (19/6). Mubarak mengatakan
Obama bersedia untuk membimbing ke arah pencapaian perdamaian di Arab.
"Suatu
penyelesaian bersejarah kini dalam upaya untuk diwujudkan, yang satu akan
memberikan negara kepada rakyat Palestina, serta kebebasan dari pendudukan, sedangkan
Israel mendapatkan pengakuan dan keamanan untuk hidup dalam damai," tulis
Mubarak.
"Mesir bersikap
siap untuk menjemput kesempatan ini, dan saya yakin bahwa dunia Arab akan
melakukan hal yang sama," katanya.
Pemerintahan Bush
menunggu sampai tahun terakhir dalam jabatannya untuk melakukan upaya
perdamaian Israel-Palestina, dan mendapat kecaman oleh banyak negara Arab
karena berbuat terlalu sedikit dan juga lambat.
Utusan Timur Tengah
Obama, George Mitchell, telah bertolak empat kali ke kawasan Timur Tengah dalam
tahun ini, dalam rangka menghidupkan kembali perundingan-perundingan perdamaian
Israel-Palestina. Perundingan-perundingan tersebut terhenti setelah serangan Israel terhadap Gaza yang dikuasai Hamas pada Desember lalu.
Pada awal pekan ini,
Mitchell dengan optimistis mempersiapkan perundingan-perundingan yang
diharapkan berkembang sepenuhnya dalam waktu dekat, meskipun menghadapi
hambatan sengketa berkaitan perluasan permukiman Israel di Tepi Barat, yang
mereka duduki sejak perang Arab-Israel pada tahun 1967.
"Israel tak henti-hentinya melakukan perluasan
permukiman, yang merusak serius prospek-prospek solusi dua negara, bersama
dengan penutupan Gaza," kata Mubarak, yang
merujuk pada pemblokadean Israel
terhadap Gaza
yang dikuasai oleh kelompok Hamas.
Mesir telah berusaha
untuk memprakarsai kesepakatan bagi-kekuasaan antara Pemerintah Palestina yang
dipimpin Fatah dan Hamas. Mubarak mengatakan bahwa rakyat Palestina harus bisa
mengatasi perbedaan-perbedaan mereka sendiri untuk mencapai aspirasi mereka
dalam membentuk negara.
Dia mengatakan, jika
Israel
melakukan ’langkah-langkah serius’ ke arah perdamaian dengan Palestina, dunia
Arab akan melakukan hal yang sama. "Prioritas hendaknya memecahkan dulu
perbatasan-perbatasan permanen dari suatu kedaulatan dan wilayah negara
Palestina, berdasarkan sebelum perang 1976. Ini akan membuka kunci banyak
persoalan status permanen lain, termasuk permukiman, keamanan, air, dan Jerusalem," kata
Mubarak.
Mubarak memuji
pidato Obama di Kairo pada awal bulan ini dan mengatakan bahwa hal itu
merupakan titik balik dalam hubungan-hubungan AS dengan dunia Muslim. Namun,
dia juga menegaskan bahwa hal itu hendaknya ditindaklanjuti dengan
langkah-langkah maju ke depan.
Obama dikecam oleh
beberapa kelompok hak asasi manusia (HAM) karena memilih Kairo sebagai tempat
penyampaian pidatonya karena penegakan HAM di Mesir dianggap buruk. Mubarak
mengatakan, Mesir telah melaksanakan reformasi-reformasi, tetapi memang masih
banyak yang harus dilakukan.