NEW YORK--Penargetan berdasar ras dan agama makin meluas
di Paman Sam. Pihak berwenang di Amerika juga tak menampakkan tanda-tanda
berhenti melakukan kebijakan tersebut, menjadikan Muslim dan orang Arab memikul
dampak terburuk.
Kondisi
tersebut diungkap oleh dua organisasi hak asasi manusia di AS, Perserikatan
Kebebasan Sipil Amerika (ACLU) dan Grup Pekerja Kebenaran (RWV), yang mendesak
pemerintah Obama untuk segera menghentikan pemeriksaan ketat dan penargetan
kaum minoritas tersebut. Hal itu, menurut ACLU dan RWG, wajib dilakukan bila AS
ingin benar-benar menegakkan penghormatan hak asasi.
"Praktik
penargetan berdasar ras oleh para penegak hukum di tingkat federal, negara
bagian lokal, menyebarkan masalah di penjuru AS," demikian kesimpulan
dalam laporan yang ditulis oleh kedua organisasi yang dirilis Rabu (1/7) di New York.
Laporan
tersebut, yang juga dikirimkan ke Komite PBB untuk Penghilangan Diskriminasi
Rasial (CERD) menemukan jika Amerika masih melakukan praktik penahan terhadap
ribuan orang setiap hari. Alasan penahanan semata-mata kecurigaan terkait ras,
keagamaan, dan nasionalitas.
"Data
dan informasi dari penjuru negara mengungkapkan jika minoritas ras tetap
menjadi korban ketidakadilan pemerintah," bunyi laporan. "Pihak
berwenang menginvestigasi, menghentikan, menginterogasi, menggeledah mereka
hanya berdasar subjektifitas karakter identitas mereka," lanjut laporan
tersebut.
"Korban
juga terus ditarget secara ras dan etnis ketika mereka di tempat kerja,
mengemudi, di toko, beribadah, di perjalanan, dan bahkan ketika berdiri
di jalan sekali pun,". Laporan memperingatkan jika penargetan macam itu
terus berlanjut, akan mempengaruhi hidup jutaan orang di komunitas
Afrika-Amerika, Asia, Latin, Asia Selatan dan
Arab.
Di
dalamnya juga menyebut beberapa contoh, termasuk kasus Januari lalu, satu
keluarga Muslim dipindah dari penerbangan domestik ke Orlando, Florida.
Itu terjadi hanya karena salah satu penumpang mendengar keluarga itu
bercakap-cakap tentang kursi "paling aman" di pesawat.
Raed
Jarrar, warga AS kelahiran Irak juga dilarang melakukan penerbangan domestik
karena mengenakan kaus berbunyi "We
Will Not Be Silent" dalam bahasa Inggris dan Arab. Laporan ACLU
menyatakan itu hanyalah sebagian kecil persoalan besar yang tampil ke
permukaan, penderitaan yang dialami kaum minoritas. "Bermacam contoh
tambahan, tanpa diragukan, ada lebih banyak lagi," tulis dalam laporan.
Warisan
Pemerintah Bush
ACLU dan
RWG menyalahkan sikap prasangka pihak berwenang terhadap minoritas dan
kebijakan yang masih diadopsi dari pemerintahan George W. Bush terdahulu.
"Pemerintahan Obama mewarisi aturan penargetan rasial yang memalukan. Hal
itu tercantum dalam panduan resmi FBI dan progam pendaftaran warga sipil resmi
yang memperlakukan Arab dan Muslim sebagai tersangka serta menolak praduga tak
bersalah atas mereka," masih dalam laporan ACLU.
Kedua
organisasi tesebut menyatakan, di dalam sesi dengar pendapat di depan Kongres,
tak lama sebelum tragedi WTC, Bush menyatakan penargetan rasial adalah
"salah". "Sayangnya retorika pemerintah Bush, tidak mirip dengan
praktek di lapangan,"
Ribuan
Muslim dan Arab sering dikumpulkan, diinterogasi, dan dimata-matai di Paman Sam
dalam minggu-minggu dan bulan-bulan setelah serangan WTC 11 September. Beberapa
tahanan, setelah mereka dibebaskan, bahkan menggugat balik pemerintahan atas
tindakan tidak manusiawi dan pemutusan komunikasi dari dunia luar di pusat
penahanan. (iol/itz)