KOMPAS.com - Meski bukan forum pengambil keputusan,
pertemuan International Economic Forum yang berlangsung di Petersburg,
salah satu kota
terindah di dunia di Rusia, 4-6 Juni, ikut menggoreskan sejarah penting bagi
peletakan landasan pembentukan peta geopolitik dan ekonomi global baru
pascakrisis.
Pada forum yang
dihadiri 5 pemimpin negara, 35 menteri, 271 anggota delegasi dari 73 negara,
dan 693 perwakilan dunia usaha dari 83 negara, Presiden Rusia Dmitry Medvedev
menyerukan kepada China, Rusia, dan India untuk bersama membangun tata dunia
baru yang lebih multipolar dan lebih adil serta pembentukan mata uang global
cadangan devisa (reserve
currency) baru pengganti dollar AS.
Sistem unipolar yang
secara artifisial bertahan selama ini, menurut Medvedev, didasarkan pada ”satu
pusat besar konsumsi, dibiayai dengan defisit yang angkanya terus membengkak,
dengan konsekuensi utang yang juga terus membesar, satu mata uang cadangan
devisa yang sangat kuat, dan satu sistem penilaian aset dan risiko yang sangat
dominan”. Sistem seperti ini terbukti gagal dan sebagai konsekuensinya menyeret
seluruh perekonomian dunia dalam krisis. Rasanya tak perlu repot-repot menebak,
pernyataan ini jelas ditujukan pada sistem ekonomi pasar di bawah kendali
Amerika Serikat.
”Apa yang kita
perlukan sekarang ini adalah kelembagaan finansial yang sepenuhnya baru, di
mana tidak ada dominasi dari isu dan motif politik tertentu atau negara-negara
tertentu,” ujarnya. Medvedev pada sesi itu juga menyerang AS yang dinilai tidak
banyak berbuat, tetapi sebaliknya terlalu banyak membelanjakan dana (makes too little and spend too much)
untuk mengatasi krisis ekonomi global yang berepisentrum di negaranya.
Sebaliknya, pada
sesi yang juga menghadirkan Presiden Filipina Gloria
Macapagal-Arroyo, mantan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi,
mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder, dan peraih Nobel Ekonomi
Robert Mundell itu, Rusia dan AS mendapat tekanan dari Koizumi guna mengalihkan
(redirect) sumber daya yang
selama ini ditujukan untuk perang persenjataan nuklir untuk memulihkan ekonomi
global.
Tekad Rusia dan
China untuk memperjuangkan tata dunia baru yang lebih multipolar dan adil juga
dipertegas kembali pada pertemuan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama
Shanghai (SCO) dan KTT kelompok BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) di
Yekatenburg, Rusia, awal pekan ini. Selain Rusia dan China,
anggota SCO lainnya adalah Kazakhstan,
Kirgistan, Tajikistan,
dan Uzbekistan.
Juga hadir sebagai pengamat India,
Pakistan, Mongolia, dan Iran.
Forum Yekatenburg
ini merupakan forum resmi pertama yang membahas agenda pembentukan mata uang
cadangan devisa global (supranational currency)
untuk menggantikan dollar AS. KTT BRIC di Yekatenburg sekaligus juga KTT pertama
BRIC. BRIC adalah kelompok empat negara berkembang yang
diprediksikan Goldman Sachs bakal menggusur posisi negara-negara anggota G-7
sebagai kekuatan utama ekonomi dunia 2050. BRIC yang menyumbang 15 persen PDB
global dan 42 persen dari total cadangan devisa dunia juga menghendaki suara
yang lebih besar dalam sistem finansial global.
Struktur cadangan
Rusia dan China terbukti
tak berhenti hanya pada tataran bicara. Sebagai titik awal, anggota SCO dan
BRIC sepakat menggunakan mata uang mereka sendiri dalam transaksi
perdagangan di antara mereka. Sejauh ini, China sudah membuat perjanjian dengan
Argentina, Brasil, dan Malaysia untuk mendenominasikan perdagangan bilateral
mereka dengan renminbi ketimbang dollar AS, sterling, atau euro.
China secara agresif juga memborong aset di sejumlah
negara dan melakukan kesepakatan barter dan swap untuk mengurangi kepemilikan
dollar AS. Perubahan struktur portofolio valas dalam cadangan devisa juga
dilakukan Rusia. Laporan Bank Sentral Rusia kepada Duma, per Januari 2009,
porsi aset dollar AS dalam cadangan devisa turun menjadi 41,5 persen dari 47
persen awal 2008. Sebaliknya, aset berbasis euro naik dari 42 persen menjadi
47,5 persen. Posisi cadangan devisa Rusia per Oktober 2008 tercatat 537,6 miliar
dollar AS.
Sebelumnya, Gubernur
Bank Sentral China Zhou Xiaochuan dalam pernyataan resmi di situs bank sentral
secara terbuka menyerukan ditinggalkannya dollar AS sebagai mata uang cadangan
devisa dan menggantinya dengan Special Drawing Rights yang diterbitkan Dana
Moneter Internasional (IMF).
Belum jelas strategi
apa yang disiapkan AS menghadapi pengepungan seperti ini, tetapi Presiden AS
Barack Obama dan Menteri Keuangan Tim Geithner mengungkapkan keyakinan mereka
bahwa dollar AS akan tetap menjadi mata uang utama cadangan devisa untuk jangka
lama ke depan. Para panelis pada forum
internasional itu sendiri sepakat mata uang baru diperlukan untuk menjaga
stabilitas ekonomi dan sistem keuangan global. (Sri Hartati Samhadi)
MOSKWA,
KOMPAS.com — Pemerintah
Rusia mengharapkan Presiden AS Barack Obama tidak akan mengikuti rencana
pendahulunya untuk mengerahkan senjata di angkasa.
Namun, seorang
jenderal senior Rusia menegaskan bahwa Pemerintah Rusia siap untuk menanggapi
dengan pantas jika AS tetap melanjutkan langkah itu.
Rusia, yang sedang merundingkan dengan AS mengenai perjanjian baru untuk
mengekang senjata nuklir guna menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata
Strategis (START-1) yang akan berakhir Desember, menentang pengerahan senjata
di angkasa.
Presiden Dmitry
Medvedev, yang akan menerima Obama bulan depan dalam kunjungan pertamanya ke
Moskwa, mengatakan syarat-syarat Rusia untuk perjanjian baru senjata nuklir
meliputi pelarangan senjata di angkasa. "Sejauh yang saya tahu, PemerintahAS
sekarang ini memiliki rencana yang sedikit berbeda; mereka telah menjadi lebih
bersahaja dan lebih realistis," kata salah seorang Wakil Menteri
Pertahanan Rusia Vladimir Popovkin, yang memimpin urusan pesenjataan, dilansir Reuters, Kamis (18/6).
Ia mengatakan bahwa
Rusia dapat menemukan cara yang murah menghadapi sistem pertahanan angkasa AS
yang potensial itu. "Ada
jawaban yang lebih memadai, dan untuk ini tidak ada kebutuhan untuk menempatkan
senjata di angkasa," katanya. "Bukan masalah besar untuk menembak
jatuh sebuah satelit di angkasa, dan China telah membuktikan hal itu
dengan melakukan percobaan yang relevan."
Popovkin
mengingatkan bagaimana upaya ketika itu Presiden AS Ronald Reagan untuk
menciptakan sistem antirudal yang ditempatkan di angkasa telah mempercepat
perlombaan senjata Perang Dingin dan membantu mempercepat runtuhnya Uni Soviet.
"Kami telah
terseret ke dalam upaya gila-gilaan yang disebut `Perang Bintang (Star Wars)`
di bawah (Presiden AS Ronald) Reagan ini, dan Anda tahu dengan baik bahwa
hasilnya adalah menjadi salah satu penyebab di balik runtuhnya Uni Soviet. Kami
telah menghamburkan jumlah uang yang sangat besar," katanya.
Mantan Presiden
George W Bush telah memerintahkan Pentagon untuk mulai mencari sistem antirudal
baru empat tahun lalu sebagai tindakan berjaga-jaga terhadap peluncuran (rudal)
dari Korea Utara atau Iran.
Kongres telah menyetujui dana 5 juta dollar AS untuk menyelidiki kemungkinan
pertahanan rudal yang berpangkalan di angkasa Oktober lalu, langkah awal
potensial ke arah sistem "Perang Bintang". AS telah menghabiskan
lebih dari 100 miliar dollar AS untuk mengembangkan sistem antirudal di darat,
laut, dan di udara.
Rusia percaya bahwa
AS memerhatikan terutama mengenai keselamatan kelompok satelitnya di orbit yang
sangat penting untuk mengoordinasikan tentara AS yang dikerahkan di seluruh
dunia dan untuk menang dalam perang di Irak dan Afganistan. Wakil Menteri
Pertahanan itu juga mengatakan bahwa Rusia mengharapkan percobaan terakhir yang
berhasil dari rudal nuklir strategis Bulava-nya yang banyak ditangguhkan, tahun
ini, dan melakukan penerbangan pertama jet tempur generasi kelimanya yang baru.
"Tugas itu
tahun ini kami harus menyelesaikan semua uji coba penerbangan Bulava yang
mencakup penerbangan dari atas Yury Dolgoruky (kapal selam nuklir)," kata
Popovkin.
"Mengenai
pesawat generasi kelima itu, hal itu direncanakan akan dilakukan tahun ini dan
kami tidak memiliki alasan untuk menangguhkan tenggat waktunya. Mesinnya akan
berupa 4++++ tapi pesawat itu sendiri dan banyak dari elemen pentingnya akan
benar-benar generasi kelima," tambahnya.
DARAH KAUM MUSLIM: PERANG MELAWAN PENJAJAH ASING ATAU MELAYANI KEPENTINGAN ASING?
DARAH KAUM MUSLIM:
PERANG MELAWAN PENJAJAH ASING ATAU MELAYANI KEPENTINGAN ASING?
Dunia
Islam dan dunia Arab histeris karena peperangan yang sangat sengit, yang
dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Peperangan itu telah
menyebabkan puluhan ribu nyawa melayang, dan jutaan lainnya mengungsi.
Sehingga, orang yang dengan cermat mengikuti pemberitaan di media massa, tidak tahu dari
mana ia harus mulai (dalam mencermatinya?), dan di mana semua itu akan
berakhir, sehingga orang yang sabar dibuatnya menjadi kebingungan. Mengapa,
karena dia melihat tentara Pakistan
membumihanguskan warganya sendiri di lembah Swat, yang mengakibatkan ribuan
warga sipil tewas, dan tiga juta orang mengungsi meninggalkan daerah yang subur
dan indah. Alasan pemerintah Pakistan
melakukan semua itu adalah untuk menundukkan dan mengeliminir gerakan Taliban Pakistan, serta
pengusiran para milisi asing.
Sedang di negeri tetangganya, Afghanistan para tentara NATO berperang—yang di
belakangnya adalah pemerintahan Karzai, di samping Amerika—melawan penduduk
Afghanista yang tergabung dalam gerakan Taliban Afghanistan. Sedang alasan mereka
melakukan semua itu adalah karena gerakan tersebut tidak ikut berpartisipasi
dalam pemerintahan, dan juga alasan untuk mengusir para milisi asing.
Selanjutnya, lihat Somalia yang sedang ditimpa
musibah. Syeikh Syarif Ahmad yang kemarin adalah mitra partai Islam dan pemuda
mujahidin dalam memerangi pemerintah yang loyal kepada Amerika dan pasukan
Ethiopia, sekarang berbalik memerangi keduanya, dengan klaim bahwa pasukannya
adalah orang-orang asing, sehingga itu dilakukan dengan alasan mengusir para
milisi asing.
Adapun tentara Arab, seperti tentara Mesir, Suriah,
dan Saudi Arabia sungguh mereka telah berperang di pihak Amerika dalam Perang
Teluk, dengan alasan membebaskan Kuwait dari orang-orang Irak (orang-orang
asing). Perlu diketahui bahwa pemerintah Irak sendiri dengan berbagai komponen
politiknya telah memerangi kelompok perlawanan di Irak dengan alasan memerangi
para milisi asing.
Di Palestina juga demikian, di mana aparat keamanan
Palestina yang kemarin menjadi mitra bagi kelompok perlawanan dan pemerintah,
sekarang justru sebaliknya. Itu semua dilakukan dengan dalih bahwa pasukan
mereka adalah orang-orang asing (orang-orang Iran).
Demikian halnya dengan Iran yang telah membantu
Amerika di Irak dan Afghanistan, dengan alasan keberadaan teroris asing.
Beberapa hari yang lalu, para penguasa Iran, Afghanistan, dan Pakistan bertemu,
dan hasilnya mereka sepakat untuk memerangi terorisme, dan menjaga keamanan
perbatasan, agar para teroris tidak mudah keluar-masuk.
Siapapun yang mencermati peperangan dan politik ini
akan menemukan bahwa Amerika telah menggunakan negeri-negeri itu dan para
tentaranya untuk memasuki sebuah medan peperangan dengan menjadi agen Amerika
di semua wilayah tersebut. Tentara Pakistan sedang memasuki peperangan
menggantikan Amerika di wilayah kesukuan (FATA) yang telah dikuasai kelompok
perlawanan Afghanistan, sehingga hal itu menimbulkan kekhawatiran terhadap
keberadaan Amerika di Afghanistan, serta mengancam terhadap pasokan logistik
dan yang lainnya.
Adapaun pemerintahan Karzai dan gerakan-gerakan
yang bersekutu dengannya, maka semuanya memasuki peperangan dan berdampingan
dengan pasukan Amerika di Afghanistan untuk mempertahankan keberadaan Amerika
di wilayah tersebut, serta untuk menjaga semua aset dan kepentingan Amerika.
Sementara di Irak, maka bukan rahasia lagi bahwa
para penguasa Arab bersekutu dengan Amerika. Mereka telah menyerahkan tanah,
langit, dan semua potensi yang mereka miliki kepada Amerika. Mereka memasuki
peperangan untuk melawan tentara Irak, membuka jalan untuk menduduki Irak,
merampas kekayaannya, membunuh dan mengusir jutaan rakyat Irak. Begitu juga
halnya dengan pemerintah Irak yang dibentuk oleh Amerika yang berdasarkan
aliran, termasuk pembentukan Ashahwat telah memerangi semua gerakan perlawanan
di Irak menggantikan Amerika.
Sedangkan pemerintah Syeikh Syarif Ahmad, maka
gerakan-gerakan yang memerangi dan yang diperanginya, sebelumnya merupakan
sekutunya sendiri dalam memerangi kekuasaan dan pengaruh Amerika di Somalia,
serta sekutunya dalam memerangi para agen Amerika, baik pemerintah atau tentara
Etiopia. Namun semua itu terjadi sebelum ia bergandengan dengan Amerika di Djibouti,
dan hasil dari berbagai pertemuan yang ia lakukan dengan mereka, sekarang ia
memasuki peperangan sebagai agen untuk melawan sekutunya sendiri, yang kemarin
bersama-sama berjuang mengalahkan pengaruh Amerika yang sedang mendominasi di
Somalia.
Adapun di Palestina, maka Jenderal Amerika, Dayton
mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyingkirkan semua kekuatan pemberontak
dari aparat keamanan, dan kemudian melatih generasi baru yang rela untuk
mengawasi dan menangkapi “saudara-saudara menreka sendiri, meski harus
menggunakan kekuatan senjata”, atau bahkan menjadi mitra pemerintah dalam
rangka untuk menjaga keamanan orang-orang Yahudi, serta melestarian
kepentingan, pengaruh, dan dominasi Amerika di Palestina.
Jika kita pelajari dengan seksama, bahwa para
tentara “orang-orang asing” di Afghanistan, maka mereka semua disebut dengan
Mujahidin pada waktu berperang dengan bangsa Rusia, baik di mata para penguasa
Arab, kaum Muslim, maupun Amerika, sedang sebagian yang lain disebut dengan
tentara perlawanan, pejuang, pendukung, sekutu pemerintah, dan lain-lainnya.
Sementara sekarang begitu jelasnya bahwa kaum
Muslim (berperang?) satu sama lain dalam peperangan sebagai agen Amerika dan
yang lainnya di semua daerah. Mengapa, umat tidak juga menyadari akan kewajibannya,
potensi kekuatannya, dan kemampuannya untuk mengubah kondisi dan keadaan yang
memilukannya. Yaitu mengubah para penguasa yang menjadi sumber bencana, dan
memerangi rakyatnya sendiri, dengan para penguasa yang siap memerangi para
musuhnya yang telah menduduki negeri-negeri kaum Muslim di Palestina, Irak,
Afghanistan, dan neger-negeri Arab dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya.
Mengapa umat Islam belum juga mengambil kendali
kekuasaannya, menyatukan dirinya, dan mendirikan negaranya yang akan menerapkan
Islam secara sempurna; mengemban risalah, cahaya, dan petunujuk bagi semua umat
manusia, sehingga umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari
kezaliman dan kejahatan Amerika dan negara-negara Demokrasi Kapitalis menuju
keadilan Islam; dan mengembalikan kedudukan kaum Muslim pada kedudukan yang
seharusnya di antara umat-umat yang lain, dan bahkan menjadikan negaranya
sebagai negara nomor satu di dunia, yaitu negara yang akan menjadi impian semua
generasi bangsa, dan negara yang akan memberikan keadilan kepada semua umat
manusia, di manapun ia berada.
(Ahmad al-Khatib ; Anggota Maktab I’lami Hizbut
Tahrir di Palestina)
PANGLIMA BARU AS MENGUBAH SIASAT PERANG AFGANISTAN
PANGLIMA
BARU AS MENGUBAH SIASAT PERANG AFGANISTAN
LONDON (Arrahmah.com) -
Amerika Serikat berencana untuk mengkaji ulang strateginya di Afghanistan
sebagai respon atas kemarahan yang meluas mengenai tingginya jumlah warga sipil
yang menjadi korban serangan mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh panglima AS
pada Jumat (12/6).
Letnan Jenderal
Stanley McChrystal mengatakan bahwa ia akan fokus dalam menyeimbangkan pengaruh
taktis operasi jangka pendek dengan efek strategi jangka panjang, sembari
menekankan bahwa melindungi penduduk merupakan salah satu fokus utama dalam
memperoleh keseimbangan tersebut.
"Satu hal yang
akan kami lakukan adalah mengkaji ulang semua aturan perang dan semua instruksi
terhadap masing-masing unit, dengan penekanan bahwa kami berperang untuk
penduduk dan terlibat dalam melindung mereka dari musuh maupun dari operasi
kami sendiri," kata McChrystal pada BBC.
"Kami tahu
bahwa meskipun operasi dilakukan dengan alasan yang benar namun memiliki dampak
negatif, hal tersebut dapt memberikan pengaruh yang negatif pula bagi semua
pihak."
McChrystal, mantan
panglima pasukan khusus di Irak, akan mengambil komando atas 56.000 pasukan AS
dan 33.000 tentara NATO dari berbagai negara, menggantikan Jenderal David
McKiernan, yang diberhentikan bulan lalu.
Tingginya jumlah
korban sipil akibat serangan AS ini menjadi isu yang cukup sensitif dimana
pimpinan munafik Afghanistan
maupun penduduk lokal, juga komunitas internasional, menentang keras dan
melemparkan kritik yang tajam terhadap militer AS, sang polisi dunia.
Sebuah serangan
udara bulan lalu di barat Afghanistan
menewaskan warga sipil dalam jumlah terbesar. AS mengklaim bahwa korban yang
tewas akibat serangannya hanya 20-35 orang saja. Sedangkan kenyataannya, korban
sipil yang tewas akibat kebrutalan militernya berjumlah sekitar 150 jiwa.
"Hal terpenting
bagi kami saat ini adalah melindungi rakyat Afghan sehingga mereka kemudian
kembali memihak pemerintahnya yang legal dan efektif," lanjut McChrystal
mengenai prioritasnya.
"Sehingga jika
kami memenangkan usaha (peperangan di Afghanistan) ini, hal itu terjadi
karena kami melindungi penduduk dan sehingga usaha untuk menyerah musuh akan
menjadi upaya untuk mendukung prioritas tersebut (merebut simpati
publik)."
Saat ditanya
mengenai pasukan tambahan yang dikirim ke Afghanistan, ia hanya menjawab
bahwa semua usaha akan ditujukan untuk mencegah kebangkitan kembalinya kelompok
mujahidin Taliban dan al-Qaeda. (Althaf/reuters/arrahmah.com)
RIYADH -- Arab Saudi
menerima kiriman pertama dua jet Topan Eurofighter dari 72 pesawat Inggris yang
telah dipesan tetapi sebelumnya diragukan karena skandal senjata Yamamah, kata
kantor berita negara itu SPA, Jumat.
Asisten Menteri
Pertahanan dan Penerbangan Pangeran Khaled bin Sultan menerima dua jet Topan
itu dalam satu acara dengan para pejabat Inggris di fasilitas-fasilitas BAE
System, pabrik pesawat itu di Wharton, Inggris, Kamis, kata SPA.
Dua pesawat tempur
itu adalah kiriman pertama dari satu pesanan 72 pesawat yang harganya mencapai
sekitar 32,9 miliar dolar, termasuk senjata-senjata dan perawatan jangka
panjang.
Arab Saudi adalah
negara pertama di luar Eropa memiliki jet Topan, sebuah pesawat multi peran
yang diproduksi konsorsium yang dipimpin BAE System dari perusahaan-perusahaan
Eropa.
Perjanjian itu
pertama kali diumumkan Agustus 2006, tetapi kemudian gagal karena ragu setelah
satu penyelidikan Inggris terhadap koruspi besar-besaran dalam perjanjian
senjata-senjata sebelumnya antara Arab Saudi dan BAE System yang melibatkan
para pejabat senior kedua negara.
Penyelidikan
terhadap apa yang disebut perjanjian Yamamah dibatalkan oleh pemerintah Inggris
Desember 2006 dengan alasan "keamanan nasional", "kepentingan
umum," dan kontrak akhir bagi pesawat Topan ditandatangani September 2007.- ant/afp/ahi
MENKEU: KRISIS BUKTIKAN GAGALNYA PASAR BEBAS MURNI
MENKEU:
KRISIS BUKTIKAN GAGALNYA PASAR BEBAS MURNI
BALI -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
mengatakan, krisis keuangan global yang saat ini sedang terjadi menunjukkan
ekonomi tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar lewat
tuntunan tangan-tangan tak terlihat (invisible hand) yang menjadi prinsipnya.
Invisible hand
adalah prinsip kunci dalam teori ekonomi klasik dari ekonom Adam Smith yang
menjadi inti ideologi pasar bebas murni. "Krisis menunjukan kepada kita
keterbatasan dari invisible hand di dunia nyata. Kita lihat bagaimana the
invisible hand membantu keruntuhan Lehman Brothers, Bear Stern dan lembaga
investasi besar lainnya, yang didalamnya terdapat tabungan ribuan orang,"
katanya di Bali, Sabtu.
Ia menjelaskan,
pasar keuangan global yang dibiarkan bebas telah mendorong terciptanya inovasi
produk keuangan yang tidak bertanggung jawab. "Banyak diantaranya (produk
keuangan) tanpa penilaian yang memadai," katanya.
Hal ini telah
membuat gelembung keuangan, dimana uang berlipat-lipat tak terkendali akibat
berbagai produk keuangan yang bebas dijual tersebut.
Disisi lain menurut
dia, periode kebijakan moneter yang sangat lemah berjalan cukup panjang,
lemahnya penilaian risiko, dan ketidakseimbangan global menyediakan amunisi
bagi dana yang mudah bergerak menjadi pelatuk yang meledakan gelembung di
sektor keuangan.
Ia menambahkan,
semua faktor itu bergabung dengan rusaknya moral para manajer keuangan dan
pembuat keputusan sehingga terjadi perilaku yang sangat menyimpang dalam
keberanian mengambil resiko.
Ketika gelembung
meletup di AS, membuat dana yang sebelumnya berlebih menjadi kering, terutama
karena adanya pemburukan oleh membesarnya kerugian di sektor keuangan di AS.
Hal ini, membuat
fungsi intermediasi (penghubung antara mereka yang membutuhkan dana dengan yang
berlebihan dana) menjadi terganggu setelah para pemilik dana tidak lagi
mempercayai penyaluran dana dengan lebih memilih mengamankannya.
Alhasil, suku bunga
di pasar meningkat karena likuiditas sulit dicari, sementara persepsi risiko baik
untuk kemudian mengglobal. Dan negara berkembang yang tidak ada hubungannya
dengan produk keuangan tersebut pun menjadi korban prilaku irasional itu.
Karena persepsi
risiko meningkat maka bunga surat
utang baik korporasi maupun negara menjadi berlipat-lipat, meski tanpa
penilaian yang adil terhadap kekuatan (fundamental) ekonomi yang dimilikinya.
Akibatnya, negara
berkembang kesulitan mencari dana di pasar keuangan karena suku bunga yang
ditawarakan tidak masuk akal. Di sisi Lain, akibat kerugian besar di AS,
dana-dana mengalir keluar dari negara berkembang ke AS yang digunakan untuk
membiayai kerugian yang dialami AS itu.
Akibatnya, nilai
tukar negara-negara berkembang melemah, begitu pula bursa efek mencatat
penurunan tajam karena aliran dana keluar tersebut. Tak hanya pada sektor
keuangan, krisis ini merambat ke sektor riil di mana saluran kredit ke sektor
riil terganggu.
Bank melihat
kekeringan likuditas membuat mereka berhati-hati sehingga kredit untuk sektor
riil pun mengalir tersendat karea hati-hati atau bahkan tertahan. Akibatnya
membuat sektor riil sulit bergerak, dan permintaan duniapun anjlok. "Aksi
irasional ini menghukum kita dengan bunga surat
utang yang tinggi, pasar irasional. Kita adalah korban," katanya. -
KAIRO -- Kehadiran
Obama di Mesir kemarin, Kamis (4/6), merupakan fenomena baru. Persiapan penyambutan
dari segi keamanan dan pembaharuan suasana tidak pernah terjadi sebelumnya
dalam sejarah penyambutan presiden mana pun. Tamu yang satu ini benar-benar
diistimewakan bagi Mesir. Tidak hanya itu, ujian di beberapa universitas pun
harus diliburkan untuk menjamin kestabilan suasana.
Obama ditemani Menlu
AS, Hillary Clinton, berkunjung ke Masjid Sultan Hasan sebelum menyampaikan
pidatonya di Universitas Kairo.
Satu jam sebelum
acara dimulai, ruangan aula sudah dipadati undangan sebanyak 2500 orang. Terlihat
di barisan depan Grand Syaikh Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi dan
beberapa tokoh agama Kristen Koptik. Tidak ketinggalan Mufti Mesir Dr. Ali
Jum'ah juga hadir dalam acara tersebut.
Dalam pidatonya,
Obama berbicara tujuh poin penting yang berhubungan langsung dengan Dunia
Islam. Salah satu poin yang menjadi fokus pembicaraan obama adalah kesantunan
Islam yang sesuai dengan nilai kemanusiaan. Obama dengan yakin mengatakan bahwa
ajaran Islam tidak sejalan dengan kekerasan. Dari poin ini, Obama mengajak
kepada seluruh umat Islam dunia untuk bersama-sama menciptakan perdamaian
dunia. Dalam konteks ini Obama menjadikan Islam Indonesia sebagai percontohan.
Hadirin seakan
terpukau dengan pidato obama. Pasalnya selama ini Presiden AS dikenal brutal
dan tidak memiliki rasa kemanusiaan. Nyawa manusia seakan tidak berharga ketika
melihat tragedi Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Namun pidato Obama sangat
kontras dengan kebijakan Presiden AS sebelumnya. Beberapa kali pembicaraannya
disambut dengan tepuk tangan meriah para hadirin. Apalagi terhitung tiga kali
Obama mengutip teks terjemah Alquran. Kontan saja para undangan kembali
bersorak gembira.
Diantara pidato
Obama yang membuat hati para hadirin bak tersihir adalah, " Sesungguhnya
Islam adalah agama yang sangat tua, dan mempunyai sejarah perdaban yang
gemilang yang tidak pernah diraih oleh agama manapun, maka selayaknya Amerika
harus ikut berpartisipasi dalam membangun kejayayaan Islam kembali."
Lembaga tinggi
Al-Azhar pun memberikan pujian terhadap pidato Obama,"Sesungguhnya pidato
ini adalah sebuah jalan untuk membuka dialog antar peradaban, sehingga mampu
mengetengahi konflik antara keduanya yang tak kunjung usai."
Al-Azhar juga mengungkapkan kesiapannya untuk ikut aktif berpartisipasi dalam
agenda Obama dalam mewujudkan perdamaian yang komprahensif di Timur Tengah,
khususnya antara Palestina dan Israel. Mereka juga menyambut hangat rencana
penarikan tentara AS di Irak dan beberap upaya lainnya yang ditempuh guna
mencapai mengembalikan kenyamanan di negeri Afganistan.
Reaksi
Palestina
Pemerintah Palestina
menyambut baik sikap Obama terhadap Palestina yang termuat dalam pidatonya.
Ucapan ayah dua anak itu dinilai memberikan dasar terwujudnya solusi dua negara
seperti yang termaktub dalam peta jalan damai. Tanggapan positif juga muncul
dari warga muslim AS. Mereka menilai Obama sangat tulus dan berani
menyelesaikan konflik di Timur Tengah.
Reaksi berbeda
justru diungkap Hamas. Mereka mengkritik pidato Obama terlalu lunak dalam
memaksa Israel menghentikan kekerasannya terhadap warga Palestina.
Juru bicara Hamas,
Fauzi Barhoum, dalam keterangan persnya menegaskan bahwa pidato Presiden AS,
Barack Obama, di Kairo kemarin tidak menjamin perubahan substansial terhadap
politik AS terhadap Palestina. Ia menilai pidato Obama terdapat banyak
kontradiktif, diantaranya mengatakan bahwa Hamas mendapat dukungan penuh dari
rakyat Palestina, tapi dalam satu sisi dia tidak berbicara tentang legalitas
Hamas yang tampil resmi melalui tangga demokrasi.
"Dalam
pidatonya, Obama hanya berbicara tentang pembantaian bangsa Yahudi yang
tertindas, tidak menyinggung sedikit pun pembantaian Gaza yang dilakukan oleh
penjajah Zionis terhadap rakyat sipil," tegas Barhoum.
Menurut penilaian
Barhoum, Obama berbicara tentang strategi baru AS, tapi dia tidak minta maaf
atas kesalahan strategi yang berimbas pada kehancuran Irak dan Afghanistan.
Obama menggunakan "bahasa perdamaian" dalam pindatonya.
Sementara Gerakan
Jihad Islam di Palestina mengatakan pidato Obama hanya terfokus pada eksistensi
Israel sebagai negara nasional Yahudi, dikatakannya sebagai bagian dari kawasan
dunia Arab-Islam. Obama juga mengaitkan adanya kelestarian dan peningkatan di
kawasan itu dengan pengakuan terhadap Israel dan senantiasa akan
mengamankannya.
Dawud Syihab, jubir
Gerakan Jihad Islam dalam keterangan persnya mengatakan, "Kami tidak
melihat perubahan dalam strategi AS, hanya ada perubahan politik dan
mekanismenya untuk merealisasikan strategi AS. Dan inilah memang kondisi dan
tuntutan kepentingan AS, berkomitmen untuk senantiasa menjaga eksistensi
Zionis".
Reaksi
Israel
Pemerintah Israel
umumnya mendukung sikap Obama dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah. Tapi
tak sedikit juga warga gelisah dengan jalan damai yang akan ditempuh AS.
Sedangkan warga
Israel yang tinggal di permukiman Yahudi menilai, pidato Obama hanya
mempersulit posisi Israel di dunia Internasional. Mereka juga menilai seruan
Obama agar Israel menghentikan proyek pembangunan permukimannya, tak akan
berhasil.taq/iol/alawsat/sinai [REPUBLIKA.CO.ID]
New
York - Harga minyak mentah
dunia akhirnya menyentuh level US$ 70 per barel, untuk pertama kalinya sejak 7
bulan terakhir. Sementara saham-saham di Wall Street ditutup datar-datar saja.
Pada
perdagangan Jumat (5/6/2009), kontrak utama minyak light pengiriman Juli sempat
menembus level US$ 70,32 per barel, tertinggi sejak 4 November 2008. Namun
kontrak ini akhirnya ditutup turun 84 sen ke level US$ 67,97 per barel seiring
pulihnya dolar AS.
Sementara
minyak Brent pengiriman Juli ditutup turun 95 sen ke level US$ 67,76 per barel.
"Rally
harga minyak di awal sesi sepertinya gagal berkat pulihnya dolar," ujar
Adam Klopfensteun, analis senior Lind-Waldock, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (6/6/2009).
Dolar AS
memang sempat melemah tajam atas euro. Namun mata uang tunggal itu akhirnya
ditutup melemah di bawah level 1,4000 yakni di 1,3970 dolar, dari posisi
sebelumnya di 1,4179 dolar. Dolar AS juga menguat atas yen ke posisi
98,62 yen, dari posisi sebelumnya di 96,61 yen.
Sementara
saham-saham di Wall Street mengakhiri pekan ini dengan mixed, akibat profit
taking setelah rally sebelumnya. Pasar saham berjalan sangat bergejolak, dan
memulai sesi perdagangan dengan penguatan sebelum akhirnya melemah karena
investor melakukan penilaian ulang atas data pengangguran terbaru.
Departemen
tenaga kerja AS melaporkan jumlah PHK mencapai 345.000 pada Mei, atau sedikit
lebih rendah dari prediksi analis. Namun tingkat pengangguran AS mencapai 9,4%
atau tertinggi sejak tahun 1983.
Data itu
diartikan investor sebagai sebuah pertanda bahwa ketidakpastian masih
menyelimuti perekonomian AS, meski sudah ada tanda-tanda perbaikan.
"Ada
tanda-tanda yang bercampur dari data perekonomian," ujar Rayan Detrick,
analis senior dari Schaeffer's Investment Research seperti dikutip dari Reuters. "Awalnya orang melihat
angka 345.000 dan setiap orang sedikit senang, namun kemudian menyadari bahwa
tingkat pengangguran ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan. Dan ada fakta
bahwa pada Jumat dan para penjual ingin mengambil untung pada hari ini," tambahnya.
Pada
perdagangan Jumat (5/6/2009), indeks Dow Jones ditutup menguat tipis 12,89 poin
(0,15%) ke level 8.763,13. Indeks Standard & Poor's 500 turun tipis 2,37
poin (0,25%) ke level 940,09 dan Nasdaq melemah 0,60 poin (0,03%) ke level
1.849,42.
Perdagangan
saham moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,26 miliar saham di bawah
rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai
2,31 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar. [detikFinance]
WASHINGTON - Laporan dari Dana Moneter Internasional mengungkapkan krisis global
masih akan panjang dengan pemulihan yang lambat dan sulit. Bahkan, dimungkinkan
tidak ada seorang pun yang dapat lolos dari krisis ini.
"Lemahnya aliran dana dari
perekonomian negara berkembang akan memukul Eropa Timur," ujar Dana
Moneter Internasional (IMF) dalam laporan semesteran World Economic Outlook.
Seperti yang dilansir Reuters, Minggu (19/4/2009).
Dijelaskan pula, jika resesi saat
ini tampaknya akan luar biasa panjang dan parah. Pemulihan akan sulit. IMF
tidak memberikan perkiraan kapan dimulainya pemulihan resesi global yang
pertama terjadi dalam enam dasawarsa terakhir ini akan mulai.
"Beberapa pertanda bahwa
tekanan ini sudah mulai berkurang," ujar ekonom IMF, Stephan Danninger, di
Washington. Akan tetapi, dia mengatakan, perbaikan apa pun hanyalah mengurangi
tekanan ekstrem saja.
Direktur Pengelola IMF Dominique
Strauss-Kahn juga menyerukan pernyataan senada dengan prognosis tersebut.
"Tahun 2009 dipastikan akan
menjadi tahun yang sangat suram. Kami memperkirakan pertumbuhan global akan
menjadi negatif. Ini merupakan krisis global yang sesungguhnya, tidak ada
seorang pun yang dapat luput," ungkapnya.
IMF mengatakan, para penelitinya
memerhatikan pola siklus bisnis pada 21 negara maju dari tahun 1960 hingga saat
ini. Studi tersebut menemukan bahwa langkah mengucurkan stimulus fiskal efektif
mengakhiri resesi. Adapun kebijakan moneter seperti pemangkasan pajak dapat
memperpendek krisis, tetapi tidak terlalu efektif.
"Kebijakan yang
terkoordinasi baik dari negara maju maupun berkembang diperlukan untuk mencegah
kejatuhan yang lebih dalam lagi," demikian laporan IMF tersebut. (rhs)
INTELIJEN AS: TIDAK LAMA LAGI PAKISTAN AKAN JADI NEGARA ISLAM
INTELIJEN
AS: TIDAK LAMA LAGI PAKISTAN
AKAN JADI NEGARA ISLAM
WASHINGTON (Arrahmah.com) - Sejumlah pejabat intelejen AS menyimpulkan
hanya ada sedikit harapan untuk mencegah senjata nuklir Pakistan jatuh ke tangan para
mujahidin. Dan tentu saja hal itu bisa menjadi ancaman yang luar biasa bagi AS
dibanding apa yang telah dilakukan Taliban Afghanistan melalui teror 9/11.
Fragmentasi Pakistan ke dalam tangan para mujahidin al Qaeda
dan beberapa kelompok mujahidin lainnya mempunyai implikasi gawat bagi AS dan
sekutunya juga dan kepentingan mereka terhadap gudang senjata nuklir Pakistan, usahanya untuk 'menenangkan' (baca:
merebut) Afganistan; juga kepentingan mereka di India,
Teluk Persia
dan Asia Tengah yang kaya minyak.
”Pakistan punya 173
juta penduduk dan 100 senjata nuklir, tentara yang jumlahnya lebih besar daripada
tentara Amerika, dan menjadi markas besar al Qaeda yang menguasai dua pertiga
negara,” kata David Kilcullen, seorang pensiunan perwira tentara Australia,
seorang mantan penasehat Departemen Kenegaraan dan konsultan anti pemberontakan
pemerintahan Obama.
”Pakistan bukan Afghanistan, terbelakang,
terisolasi, dan daratan yang terkurung,” tambah pejabat intelejen AS. “Pakistan adalah
negara berkembang... (dengan) pelabuhan Samudera Hindia, yang menjadi pintu
gerbang menuju dunia luar, khususnya Teluk Persia, yang tidak pernah dimiliki
oleh Afganistan dan Taliban.
“Implikasi ini semua
adalah malapetaka bagi AS,” tambahnya. “Jalur suplai (dari Karachi sampai basis
AS) di Kandahar dan Kabul dari sebelah selatan dan timur akan dipotong, atau
sedikitnya jalur-jalur tersebut menjadi lebih tidak aman, dan itu akan
membahayakan misi AS di Afganistan."
Beberapa pakar dalam
wawancaranya dengan pihak pers mengatakan pendapat mereka bukanlah skenario
terburuk, tetapi merupakan dugaan realistis yang didasarkan pada semakin
menguatnya militansi para mujahidin dan kegagalan pemerintah dan militer Pakistan
untuk merespon kondisi tersebut.
“Saya tidak melihat
skenario masuk akal apa pun dari pemerintah sekarang atau atau tim suksesnya
yang akan memobilisasi sumberdaya ekonomi, politik, dan keamanan untuk menekan
naiknya perlawanan dari mujahidin," kata salah seorang penasihat Pentagon
yang tidak ingin disebutkan namanya.
“Saya berpikir Pakistan
bergerak pada situasi di mana ekstremis menguasai seluruh daerah pedalaman dan
pemerintah hanya mengontrol pusat perkotaan,” tambahnya. “Jika anda melihat 10
tahun yang akan datang, saya kira pemerintahan Pakistan akan dijalankan oleh
militan Islam."
Pemandangan pesimis
pejabat Pentagon mengenai Pakistan masa depan itu didukung oleh menyerahnya
Islamabad minggu ini pada Taliban dan oleh meningkatnya infiltrasi mujahidin di
Karachi, pusat keuangan negara, serta jantung wilayah politik dan industri
provinsi Punjab.
Kematian penduduk
sipil oleh serangan pesawat tak berawak AS, delapan tahun campur tangan AS di
Afganistan, dan dukungan AS terhadap militer Pakistan juga sudah menyebabkan
semakin tersebarnya ancaman pemberontakan para mujahidin dan semakin
memunculkan kemuakan dari umat Islam.
“Pemerintah
seharusnya menyadari urgensitas kondisi ini dan tetap berkomitmen. Ini adalah
momen yang serius bagi Pakistan
,” kata Sen John Kerry, Kepala Senat Komite Hubungan Luar Negeri, pada Selasa
(14/4) kemarin pada Islamabad.
“Pemerintah federal (AS) telah menegaskan bahwa masalah ini adalah masalah Pakistan."
Ahsan Iqbal, seorang
asisten pemimpin oposisi dna mantan perdana menteri Nawaz Sharif, mengatakan
bahwa pemberontakan para mujahidin bisa dipadamkan jika pemerintah membangun
kembali sistem pengadilan, memperbaiki pelaksanaan hukum, memberikan ganti rugi
terhadap korban sipil yang meninggal dalam operasi keamanan dan
mengimplementasikan perbaikan demokratis.
"Butuh
waktu," kata Iqbal. "Kami butuh jalan keluar yang tepat dan kesatuan
internal dalam tubuh Pakistan
sendiri."
Banyak pejabat AS
dan para pakar lainnya memperkirakan bahwa para mujahidin Taliban tidak akan
pernah menyerah dan bahkan semakin meningkatkan perlawanannya.
"Taliban saat
ini menjadi pasukan yang terus meningkatkan dirinya,” pengarang Ahmed Rashid,
seorang pakar pemberontakan, mengatakan dalam konferensi di Washington pada
Rabu (15/4). “Mereka mempunyai agenda untuk Pakistan,
dan agenda itu tidak lain adalah untuk menumbangkan pemerintah Pakistan
dan men-Taliban-kan seluruh negara tersebut."
Pejabat intelejen AS
mengatakan bahwa elit Pakistan yang sejak kemerdekaannya pada tahun 1947
didominasi oleh politikus, birokrat dan perwira militer dari Punjab, sudah
gagal untuk mengatasi situasi genting di Pakistan.
“Para elit Punjab
sudah tidak menguasai Pakistan,
tetapi tak satu pun dari mereka atau pemerintah Obama menyadari hal itu,” kata
pejabat. "Pakistan
bisa menjadi negara Islam, mungkin dalam beberapa tahun lagi. Tidak ada
kepimpinan sipil di Islamabad
yang bisa menghentikan ini." (Althaf/arrahmah.com)