Entry: AS TERUS AWASI KETAT MUSLIM & ARAB Jul 2, 2009





AS TERUS AWASI KETAT MUSLIM & ARAB

By Republika Newsroom

NEW YORK--Penargetan berdasar ras dan agama makin meluas di Paman Sam. Pihak berwenang di Amerika juga tak menampakkan tanda-tanda berhenti melakukan kebijakan tersebut, menjadikan Muslim dan orang Arab memikul dampak terburuk.

Kondisi tersebut diungkap oleh dua organisasi hak asasi manusia di AS, Perserikatan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU) dan Grup Pekerja Kebenaran (RWV), yang mendesak pemerintah Obama untuk segera menghentikan pemeriksaan ketat dan penargetan kaum minoritas tersebut. Hal itu, menurut ACLU dan RWG, wajib dilakukan bila AS ingin benar-benar menegakkan penghormatan hak asasi.

"Praktik penargetan berdasar ras oleh para penegak hukum di tingkat federal, negara bagian lokal, menyebarkan masalah di penjuru AS," demikian kesimpulan dalam laporan yang ditulis oleh kedua organisasi yang dirilis Rabu (1/7) di New York.

Laporan tersebut, yang juga dikirimkan ke Komite PBB untuk Penghilangan Diskriminasi Rasial (CERD) menemukan jika Amerika masih melakukan praktik penahan terhadap ribuan orang setiap hari. Alasan penahanan semata-mata kecurigaan terkait ras, keagamaan, dan nasionalitas.

"Data dan informasi dari penjuru negara mengungkapkan jika minoritas ras tetap menjadi korban ketidakadilan pemerintah," bunyi laporan. "Pihak berwenang menginvestigasi, menghentikan, menginterogasi, menggeledah mereka hanya berdasar subjektifitas karakter identitas mereka," lanjut laporan tersebut.

"Korban juga terus ditarget secara ras dan etnis ketika mereka di tempat kerja, mengemudi, di  toko, beribadah, di perjalanan, dan bahkan ketika berdiri di jalan sekali pun,". Laporan memperingatkan jika penargetan macam itu terus berlanjut, akan mempengaruhi hidup jutaan orang di komunitas Afrika-Amerika, Asia, Latin, Asia Selatan dan Arab.

Di dalamnya juga menyebut beberapa contoh, termasuk kasus Januari lalu, satu keluarga Muslim dipindah dari penerbangan domestik ke Orlando, Florida. Itu terjadi hanya karena salah satu penumpang mendengar keluarga itu bercakap-cakap tentang kursi "paling aman" di pesawat.

Raed Jarrar, warga AS kelahiran Irak juga dilarang melakukan penerbangan domestik karena mengenakan kaus berbunyi "We Will Not Be Silent" dalam bahasa Inggris dan Arab. Laporan ACLU menyatakan itu hanyalah sebagian kecil persoalan besar yang tampil ke permukaan, penderitaan yang dialami kaum minoritas. "Bermacam contoh tambahan, tanpa diragukan, ada lebih banyak lagi," tulis dalam laporan.

Warisan Pemerintah Bush

ACLU dan RWG menyalahkan sikap prasangka pihak berwenang terhadap minoritas dan kebijakan yang masih diadopsi dari pemerintahan George W. Bush terdahulu. "Pemerintahan Obama mewarisi aturan penargetan rasial yang memalukan. Hal itu tercantum dalam panduan resmi FBI dan progam pendaftaran warga sipil resmi yang memperlakukan Arab dan Muslim sebagai tersangka serta menolak praduga tak bersalah atas mereka," masih dalam laporan ACLU.

Kedua organisasi tesebut menyatakan, di dalam sesi dengar pendapat di depan Kongres, tak lama sebelum tragedi WTC, Bush menyatakan penargetan rasial adalah "salah". "Sayangnya retorika pemerintah Bush, tidak mirip dengan praktek di lapangan,"

Ribuan Muslim dan Arab sering dikumpulkan, diinterogasi, dan dimata-matai di Paman Sam dalam minggu-minggu dan bulan-bulan setelah serangan WTC 11 September. Beberapa tahanan, setelah mereka dibebaskan, bahkan menggugat balik pemerintahan atas tindakan tidak manusiawi dan pemutusan komunikasi dari dunia luar di pusat penahanan. (iol/itz)


   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments